Oct 12, 2014

Amal Shaleh

  No comments
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang darinya timbul perbuatan dengan mudah tanpa merasa terbebani. Dan amal adalah buah dari akhlak, harus difahami pula bahwa akhlak tidak ada dengan sendirinya, tidak tiba – tiba tertanam dalam jiwa. Akhlak itu diajarkan oleh orang – orang dewasa, orang tua dan para guru kepada anak didik. Pepatah Inggris mengatakan :
Watch your thought, it becomes deed
Watch your deed, it become habit
Watch your habit, it becomes character
Jaga pikiranmu, suatu saat akan menjadi perbuatan
Jaga perbuatanmu, suatu saat akan menjadi kebiasaan
Jaga kebiasaanmu, suatu saat akan menjadi karakter (akhlak)

Jadi, jangan penuhi pikiran anak dengan cerita – cerita yang buruk atau informasi – informasi negatif tentang perilaku orang, kecuali dengan diberikan pula pengertian yang benar cerita buruk atau informasi negatif itu.
Dalam Pendidikan Agama Islam dikenal pendekatan keteladanan dan pendekatan pembiasaan untuk menanamkan akhlak kepada anak-anak didik. Sebagaimana para Rasul utusan Allah telah berakhlak mulia dan menjadi teladan bagi umat sebelum mendidik mereka dengan akhlak yang baik, orang tua dan para guru harus dapat menjadi teladan yang baik bagi anak – anak sebelum mendidik anak-anak.

Hadist – hadist Nabi Muhammad saw dan perkataan sahabat beliau tentang Amal shaleh :

 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda ”Sesungguhnya Allah tidak mempedulikan bentuk rupamu dan harta bendamu, akan tetapi Dia memperhatikan hatimu dan perbuatanmu.[HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415]

Penjelasan hadist
Memiliki rupa yang tampan, cantik dan menarik dipandang adalah suatu karunia Allah yang patut disyukuri. Tetapi kalau ketampanan dan kecantikan itu tidak diiringi dengan akhlak dan perilaku yang baik, malah sebaliknya berakhlak buruk dan berperilaku jahat, pada akhirnya satu persatu teman pun meninggalkannya.
Begitupula di sisi Allah, ketampanan dan kecantikan tidak akan menjadi dasar penilaianNya. Yang menentukan seseorang baik atau buruk bagi Allah adalah hatinya (akhlak) dan amalnya ( perbuatannya ). Karena itu seharusnya seseorang tidak hanya sibuk mempercantik penampilan fisiknya, akan tetapi lebih memperhatikan keindahan akhlaknya dan kemuliaan perbuatannya.

Amal shaleh ( perbuatan baik ) yang dilakukan oleh seorang Muslim harus didasarkan pada ilmu (syari’at). Sebaliknya seorang yang memiliki pengetahuan syari’at harus mengamalkan ilmunya. Ali bin Abi Thalib, saudara sepupu sekaligus menantu Rasulullah saw diriwayatkan berpesan kepada para ulama sebagai berikut :

Ali bin Abi Thalib berkata : ”Wahai para pemiliki ilmu, beramallah sesuai ilmu yang kalian miliki. Sesungguhnya seorang alim adalah orang beramal sesuai dengan ilmunya, dan ilmunya itu sejalan dengan amalnya. Akan ada suatu masa dimana banyak oarng memiliki ilmu tetapi amal mereka menyalahi ilmu mereka. Perbuatan mereka yang tersembunyi berbeda dengan perbuatan mereka di muka umum. Mereka membuat majlis – majlis untuk saling membanggakan diri atas yang lain, sampai – sampai seorang diantara mereka marah jika kawannya mau duduk di majlis orang lain dan meninggalkannya. Apa yang mereka amalkan di majlis – majlis mereka tidak akan sampai kepada Allah ( Riwayat al – Darimy ).

Prediksi Ali bin Abi Thalib bahwa akan datang suatu masa ketika orang – orang berilmu tidak mengamalkan ilmu mereka, dan orang – orang beramal menyalahi ilmu telah terjadi pada zaman kita. 
Nasehat itu juga sekaligus mengingatkan bahwa beramal dengan ilmu yang dimiliki, itulah yang menjadi tujuan. Ilmu hanyalah sarana, yang pokok adalah pengamalannya. Pepatah mengatakan ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tidak berbuah.
Amal shaleh, meskipun memang sudah seharusnya menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang Muslim akan memberikan syafaat bagi pelakunya. Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan:

Hudzaifah berkata, Rasulullah saw bersabda: Beberapa Malaikat menghampiri ruh seorang laki – laki dari umat sebelum kalian. Mereka bertanya, “Adakah kebaikan yang pernah kamu lakukan ?” Dia menjawab, “tidak”. Mereka berkata kepadanya, “Ingat-ingatlah”. Dia menjawab, “aku memberi pinjaman (piutang) kepada orang – orang, lalu aku suruh para pegawaiku untuk memberi tempo kepada orang yang kesulitan (belum mampu membayar) dan membiarkan orang yang sudah mampu membayar untuk menunda”. Maka Allah berfirman: Maafkanlah dia. (HR Muslim)

Penjelasan Hadist

Ibn Hajar al – Asqalani memberi penjelasan terhadap Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Bukhary, dengan mengatakan :
”Seorang laki – laki dari umat sebelum kalian, sedang dihisab, dan dia merasa tidak memiliki kebaikkan apapun, kecuali bahwa dia itu orang kaya dan memberi tempo kepada orang – orang yang belum mampu membayar hutang. Meskipun itu merupakan kewajiban atas orang yang memberi piutang, namun hal itu tetap akan memberi pahala bagi pelakunya dan akan menghapus dosa – dosanya.

Ini adalah kisah seorang laki – laki yang tidak banyak melakukan amal shalih manakala malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya. Dalam urusan dagang, dia memaafkan orang – orang yang bersangkutan dengannya. Maka Allah pun memaafkan dan mengampuni dosa – dosanya karena sifat pemaafnya dalam bermuamalah.

Rasulullah saw telah berdoa untuk orang yang bersifat demikian,”Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berlapang dada jika menjual, berlapang dada jika membeli, berlapang dada jika membayar, dan berlapang dada jika menuntut.”

Pelajaran penting yang dapat dipetik dari hadist ini adalah :
1.     Keutamaan memberi tempo kepada orang yang tidak mampu dan memberi kelonggaran kepada orang yang sudah mampu. Pelakunya yang ikhlas mendapatkan janji maaf dari Allah pada saat bertemu dengan– Nya.
2.     Luas rahmat Allah.
3.     Akan ada pertanyaan malaikat kepada seorang hamba manakala ia datang kepadanya untuk mencabut nyawanya.
4.     Menetapkan kaidah besar dalam urusan sifat Allah.
5.     Boleh jual beli secara tunda.

Bersegera Melakukan Amal Shaleh

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: Bersegeralah mengerjakan amal shaleh (untuk menghindari fitnah) seperti malam gelap gulita. Di pagi hari seseorang beriman, sore harinya dia kafir. Atau sore hari dia beriman, pagi hari dia kafir, menjual agamanya dengan sedikit harta dunia (HR Muslim) 

Penjelasan
Menurut Imam Nawawi, hadits menganjurkan untuk bersegera melakukan amal shaleh sebelum ada halangan untuk melakukannya, atau kesibukan yang terjadi akibat cobaan dan ujian yang terus bertambah, seperti bertambahnya kegelapan malam tanpa bulan.
Belum lengkap keimanan seseorang bila tidak disertai amal shaleh. Belum sempurna amal shaleh seseorang bila tidak didasari keimanan kepada Allah SWT, tunduk patuh kepada aturan dan perintah- Nya. 

Gangguan Terhadap Amal Shaleh
Nabi Muhammad saw, memberi 6 kriteria mengenai jenis – jenis sifat atau sikap yang dapat merusak amal shaleh ( tuhbitul amal ) seseorang, yaitu :
1)      Isytighal bu uyub al – khalqi. Sibuk mengurus kesalahan orang lain.
2)      Qaswat al – qulub, keras hati. Ini akibat dihinggapi anasir – anasir riya, ujub, takabbur dan hasud.
3)      Hubb al – dunya, cinta dunia.
4)      Qillat al – haya, tak punya rasa malu
5)      Thul al –amal, panjang angan – angan.
6)      Dzalimu la yantahi, berbuat zalim tanpa henti.

Bertawassul Dengan Amal Shaleh
Contoh dalam kisah yang diceritakan oleh Rasulullah saw sebagai berikut :
Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, Rasulullah saw, bersabda : Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba – tiba datanglah waktu malam lalu mereka pun bermalam di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong – konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka, kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain : Ingatlah amal shaleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu. Salah seorang dari mereka berdoa : Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan – hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak – anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu ( bakar ) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak – anakku sebelum mereka berdua. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan – Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit. Yang lainnya kemudian berdoa : Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dua puluh dinar dengan syarat ia mau menyerahkan dirinya kepadaku. Lalu diapun setuju. Ketika aku talah mampu menjamahnya, ia berkata : tidak aku halalkan engkau membuka cincin ini kecuali dengan hak. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya, dan kutinggalkan pula emas dinar kepadanya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan – Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka. Yang lainnya berdoa : Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan beberapa pekerja yang aku beri upah semua kecuali satu orang yang pergi sebelum menerima upahnya. Lalu aku kembangkan upahnya sehingga terkumpul banyak. Satu hari dia datang kepadaku dan berkata: berikanlah hakku. Aku pun menjawab : yang kamu lihat itu, unta, sapi dan kambing, itulah upahmu. Dia berkata : wahai hamba Allah janganlah kamu mengolok – olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya : Sesungguhnya aku tidak mengolok – olokmu, ambillah. Lalu ia pun mengambilnya dan pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan – Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celah yang tersisa itu. 

Demikianlah amal shaleh ternyata dapat menolong pelakunya di dunia pula. Amal shaleh tidak hanya berupa ibadah, tetapi semua perbuatan yang patut dan baik dilakukan oleh seorang serta dirasakan manfaatnya pula oleh orang lain, dan dilakukan dengan ikhlas, semuanya merupakan amal shaleh.


No comments :

Post a Comment

What do you want? Just leave a comment :)

*choose an emoticon below